MakroKontan
Tekanan Eksternal Masih Kuat, Rupiah Bisa Berlanjut Menguat di Pekan Depan?
Jumat (2/10/2026), kurs rupiah spot ditutup pada level Rp 17.882 per dolar AS, menguat 0,47% dari sehari sebelumnya.

Redaksi Kabar Emiten
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan. Pada Jumat (2/10/2026), kurs rupiah spot berakhir di level Rp 17.882 per dolar AS, naik 0,47% dibandingkan sehari sebelumnya. Sepanjang sepekan, mata uang domestik ini tercatat menguat 0,12%.
Penguatan serupa juga terlihat pada kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate). Kurs JISDOR ditutup di Rp 17.898 per dolar AS, menguat 0,22% secara harian. Dalam sepekan terakhir, rupiah JISDOR membukukan penguatan 0,1%.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan tersebut belum mampu membalik arah pergerakan rupiah secara menyeluruh. Menurutnya, sepanjang pekan ini rupiah masih berada di bawah tekanan akibat kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, serta harga minyak yang tinggi karena ketegangan di Timur Tengah.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat melonjak ke 5,3% pada Kamis (1/10), level tertinggi sejak 2002. Kenaikan itu didorong oleh inflasi yang sulit turun, penerbitan obligasi dalam jumlah besar, dan ledakan investasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Padahal, di awal tahun imbal hasil acuan tersebut masih berada di kisaran 4,15%.
Meski The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75%-4% pada FOMC September, pasar masih melihat adanya ruang bagi kenaikan lanjutan. Ekspektasi tersebut turut mendorong arus keluar modal asing dari negara emerging market dan menjadi beban tambahan bagi rupiah.
Pada awal pekan ini, rupiah memang cenderung melemah. Namun, rupiah berhasil menguat pada perdagangan akhir pekan. Lukman menyebut penguatan itu ditopang oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Kendati demikian, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk mengubah tren rupiah secara keseluruhan karena tekanan eksternal masih kuat, terutama dari pergerakan yield obligasi AS, dolar AS, dan harga minyak.
Memasuki pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, dengan absennya data-data ekonomi penting, rupiah diperkirakan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia menambahkan, perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak akan menjadi sentimen utama yang perlu dicermati pasar, karena kenaikan harga minyak berpotensi kembali menekan rupiah.
Selain itu, investor akan terus mencermati pergerakan imbal hasil obligasi, khususnya US Treasury. Jika yield obligasi AS kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar. Untuk perdagangan sepekan ke depan, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 18.100 per dolar AS.
Sumber
Emiten terkait
Tidak nempel ke ticker tertentu.